Friday, May 22, 2015

Format Penomoran Lokomotif Jepang


Teman - teman, mungkin kalian yang pernah bepergian ke arah Cirebon menggunakan kereta api sering melihat lokomotif berkabin tengah yang terparkir di gudang milik Dephub di sisi Stasiun Jatibarang. jika membaca nomor serinya, di bagian badan keretanya tertulis seri DD. bagi railfans yang sudah paham dengan penomoran lokomotif di Indonesia pasti dengan segera akan menyimpulkan bahwa lokomotif itu memiliki 8 gandar penggerak karena mengacu kepada lokomotif seri CC yang memiliki 6 gandar penggerak. Jika teman - teman berkesimpulan seperti itu, berarti teman - teman salah besar. Kenapa bisa begitu? Jawabannya adalah, karena lokomotif tersebut merupakan lokomotif impor dari Jepang, dan dia masih menyandang nomor seri asli dari Jepang dan tidak mengalami perubahan.

Untuk lebih memahami mengenai sistem penomoran lokomotif Jepang, yuk kita lihat penjelasannya dibawah ini.

Format Penomoran Lokomotif Jepang

Format Penomoran Lokomotif Uap Jepang Pra-Nasionalisasi

Seiring dengan nasionalisasi perkeretaapian Jepang pada 1906-1907, setiap lokomotif uap yang dimiliki oleh perusahaan kereta api negara diberi nomor seri sebagai identitas. Pada awal masa beroperasinya kereta api di Jepang, untuk lokomotif yang berada di seputaran Tokyo menyandang nomor ganjil dan untuk lokomotif yang berada di seputaran Kobe dengan nomor genap. Setelah diperkenalkannya sistem klasifikasi lokomotif dengan huruf latin oleh Francis Trevitchik, sistem ini menjadi jamak digunakan di seluruh dunia, dan Jepang pun mengadopsi hal tersebut dengan sistem penomoran dengan huruf dan angka sebagai berikut :

A : Tank Locomotives dengan dua roda penggerak  ( A1 – A10 )
B : Tank Locomotives dengan tiga roda penggerak ( B1 – B7 )
C : Tank Locomotives untuk jalur rel bergigi ( C1 – C3 )
D : Tender Locomotives dengan dua roda penggerak ( D1 – D12 )
E : Tender Locomotives dengan tiga roda penggerak ( E1 – E7 )
F : Tender Locomotives dengan empat roda penggerak ( F1 – F2 )

Format Penomoran Tahun 1909

Setelah era nasionalisasi pada tahun 1909, penomoran lokomotif uap menggunakan format baru dengan menggunakan 4 digit angka sebagai identitas sehingga semua lokomotif uap yang ada terpaksa harus mengganti penomoran lama. Nomor 1 – 4999 dialokasikan untuk Tank Locomotives dan nomor 5000 – 9999 dialokasikan untuk Tender Locomotives. Untuk pembagian detilnya, dijelaskan sebagai berikut :

1 – 999 : Tank Locomotives dengan dua roda penggerak 
1000 – 3999 : Tank Locomotives dengan tiga roda penggerak. Nomor 3900 dst. Untuk lokomotif jalur rel bergigi
4000 – 4999 : Tank Locomotives dengan empat roda penggerak
5000 – 6999 : Tender Locomotives dengan dua roda penggerak
7000 – 8999 : Tender Locomotives dengan tiga roda penggerak
9000 – 9999 : Tender Locomotives dengan empat roda penggerak

Sistem penomoran ini bertahan hingga revisi tahun 1928

Format Penomoran Tahun 1928

Karena sistem penomoran tahun 1909 sudah tidak menyisakan nomor yang kosong akibat semakin banyaknya lokomotif uap yang beroperasi, maka pertanggal 1 Oktober 1928 diperkenalkanlah sistem penomoran yang baru. Kecuali untuk lokomotif seri 18900, 8200, dan 9900 yang diklasifikasi ulang menjadi seri C51, C52, dan D50, lokomotif yang telah beroperasi sebelum sistem ini diperkenalkan, tetap menyandang nomor lamanya tanpa perubahan. Sistem penomoran yang baru ini mengadopsi sistem alphabet dan numeral. Penjelasannya seperti dibawah ini : 

A
NN
XXX
D
51
200

A : Jumlah Roda Penggerak
NN : Seri Lokomotif
XXX : Nomor Urut

Jumlah Roda Penggerak dibagi menjadi 4 tipe, yaitu : B untuk 2 roda penggerak, C untuk 3 roda penggerak, D untuk 4 roda penggerak, dan E untuk 5 roda penggerak. Sedangkan untuk nomor seri, 10 – 49 untuk Tank Locomotives dan 50 – 99 untuk Tender Locomotives. Dengan mengacu contoh diatas, lokomotif uap seri D51 200 berarti lokomotif tersebut adalah Tender Locomotives dengan 4 roda penggerak dengan nomor urut 200.

Lokomotif Listrik

Format Penomoran Pra - 1928

Perusahaan kereta api Jepang pertama kali mengimpor lokomotif listrik pada tahun 1912, dan seperti lokomotif uap pada masa itu, lokomotif listrik pun menyandang penomoran yang sama dengan empat atau lima digit angka. Untuk lokomotif barang penomoran dimulai dari nomor 1000 dan lokomotif barang dimulai dari nomor 6000
Format Penomoran Tahun 1928

Ketika format penomoran lokomotif direvisi pad tahun 1928, lokomotif listrik diklasifikasikan berdasarkan tingkat kecepatannya. Lokomotif berkecepatan tinggi untuk kereta penumpang dan lokomotif berkecepatan rendah untuk kereta barang. Kelak, sistem penomoran ini akan direvisi lagi untuk membedakan lokomotif berdasarkan sistem kelistrikannya ( DC , AC/DC ). Contoh penomoran sistem 1928 akan dijelaskan dibawah ini.
E
A
NN
XXX
E
F
81
95

E : Menunjukkan Lokomotif Listrik
A : Menunjukkan Jumlah Roda Penggerak
NN : Menunjukkan Seri Lokomotif berdasarkan tingkat kecepatan
XX : Menunjukkan Nomor Urut

Jumlah Roda Penggerak
Jumlah roda penggerak disimbolkan menggunakan huruf alphabet. Disini tidak dibedakan antara roda dengan motor traksi ataupu tanpa motor traksi.

B : 2 roda penggerak
C : 3 roda penggerak
D : 4 roda penggerak
F : 6 roda penggerak
H : 8 roda penggerak

Nomor Seri
Nomor seri selalu bersandingan dan berposisi setelah huruf yang merepresentasikan jumlah roda penggerak dari lokomotif tersebut. Nomor seri pada masa-masa awalnya beroperasi dibedakan menjadi tiga, yaitu :

10 – 39 : Untuk lokomotif berkecepatan dibawah 85 km/h
40 – 49 : Untuk lokomotif rel bergigi
50 – 99 : Untuk lokomotif berkecepatan diatas 85 km/h

Pada revisi tahun 1987, penomoran diubah menjadi sebagai berikut : 

10 – 29 : Untuk lokomotif DC dengan kecepatan maksimum 85 km/h
30 – 39 : untuk lokomotif AC / DC dengan kecepatan maksimun 85 km/h
40 – 49 : Untuk lokomotif AC dengan kecepatan maksimum 85 km/h
50 – 69 : Untuk lokomotif DC dengan kecepatan diatas 85 km/h
70 – 79 : Untuk lokomotif AC dengan kecepatan diatas 85 km/h
80 – 89 : Untuk Lokomotif AC / DC dengan kecepatan diatas 85 km/h
90 – 99 : Untuk lokomotif prototype

Dengan sistem penomoran ini, EF 81 95 berarti lokomotif listrik AC / DC berkecepatan diatas 85 km/h dengan 6 roda penggerak bernomor urut 95.

Lokomotif Listrik JR Freight

Perusahaan kereta api angkutan khusus barang hasil dari privatisasi JNR, yaitu JR freight membuat lokomotif baru sesudah era privatisasi. Mulanya mereka membuat lokomotif dengan desain dan model yang mengacu kepada lokomotif buatan JNR. Pada tahun 1990, JR Freight membuat lokomotif baru dengan sistem penomoran baru menggunakan huruf dan 3 digit angka dengan seri EF 200. Kelak, sistem penomoran ini diadopsi oleh JR East pada tahun 2010 untuk member nomor pada lokomotif barunya, EF 510.

E
A
NN
XXXX
E
H
500
31

E : Menunjukkan Lokomotif Listrik
A : Menunjukkan Jumlah Roda Penggerak
NNN : Menunjukkan Seri Lokomotif berdasarkan sistem kelistrikan
XX : Menunjukkan Nomor Urut

Sistem penomoran sama seperti sistem tahun 1928, namun diantara nomor seri dan nomor urut dipisahkan oleh tanda strip ( - )

Tiga digit yang digunakan menunjukkan tipe motor yang digunakan oleh lokomotif tersebut, menggantikan dua digit yang menunjukkan tingkat kecepatan lokomotif tersebut.

100 – 199 : Lokomotif DC dengan Motor DC
200 – 299 : Lokomotif DC dengan Motor AC
300 – 399 : Lokomotif DC lainnya
400 – 499 : Lokomotif AC / DC dengan Motor DC
500 – 599 : Lokomotif AC / DC dengan Motor AC
600 – 699 : Lokomotif AC / DC lainnya
700 – 799 : Lokomotif AC dengan Motor DC
800 – 899 : Lokomotif AC dengan Motor AC
900 – 999 : Lokomotif AC lainnya

Dengan mengacu kepada sistem penomoran baru ini, lokomotif seri EH 500-31 berarti Lokomotif listrik AC / DC dengan Motor AC dan 8 roda penggerak bernomor urut 31.

Lokomotif Diesel

Era JNR

Lokomotif diesel memulai debutnya di Jepang pada tahun 1929 saat Jepang mengimpor loko diesel elektrik seri DC 11 dan loko diesel mekanik DC 10 dari Jerman. Seperti loko uap dan elektrik, lokomotif diesel juga mengikuti penomoran yang berlaku pada masa itu.

D
A
NN
XXXX
D
D
51
500

D : Menunjukkan Lokomotif Diesel
A : Menunjukkan Jumlah Roda Penggerak
NN : Menunjukkan Seri Lokomotif berdasarkan tingkat kecepatan
XX : Menunjukkan Nomor Urut

Jumlah Roda Penggerak
Jumlah roda penggerak disimbolkan menggunakan huruf alphabet. Disini tidak dibedakan antara roda dengan motor traksi ataupu tanpa motor traksi.

C : 3 roda penggerak
D : 4 roda penggerak
E : 5 roda penggerak
F : 6 roda penggerak

Nomor Seri
Nomor seri selalu bersandingan dan berposisi setelah huruf yang merepresentasikan jumlah roda penggerak dari lokomotif tersebut. 

10 – 49 : Lokomotif dengan kecepatan maksimal 85 km/h
50 – 89 : Lokomotif dengan kecepatan diatas 85 km/h
90 – 99 : Lokomotif Prototype

Mengacu kepada sistem penomoran lokomotif diesel diatas, lokomotif seri DD 51 500 berarti, Lokomotif diesel berkecepatan diatas 85 km/h dan memiliki 4 roda penggerak dengan nomor urut lokomotif ke 500.

Lokomotif Diesel JR Freight

Setelah privatisasi JNR pada tahun 1987, dua anggota dari JR Group membuat penomoran baru untuk lokomotif diesel. JR East mengklasifikasikan lokomotif mereka menggunakan sistem penomoran JNR dan membuat lokomotif seri DD 19. JR Freight membuat lokomotif yang benar-benar baru dan menggunakan tiga digit angka sebagai nomor seri berdampingan dengan 2 huruf alphabet. 

D
A
NNN
XXXX
D
F
200
22
D : Menunjukkan Lokomotif Diesel
A : Menunjukkan Jumlah Roda Penggerak
NNN : Menunjukkan Seri Lokomotif berdasarkan transmisi /  kelistrikan
XX : Menunjukkan Nomor Urut

Sistem penomoran sama seperti sistem JNR, namun diantara nomor seri dan nomor urut dipisahkan oleh tanda strip ( - )

Nomor Seri
Nomor seri selalu bersandingan dan berposisi setelah huruf yang merepresentasikan jumlah roda penggerak dari lokomotif tersebut. Nomor seri terdiri dari tiga digit angka yang menunjukkan jenis transmisi / sistem kelistrikan pada lokomotif tersebut.

100 – 199 : Lokomotif diesel elektrik dengan motor DC
200 – 299 : Lokomotif diesel elektrik dengan motor AC
300 – 399 : Lokomotif diesel elektrik lainnya
500 – 799 : Lokomotif diesel hidrolik

Mengacu kepada sistem penomoran lokomotif diesel diatas, lokomotif seri DF 200-22 berarti lokomotif tersebut merupakan lokomotif diesel eletrik dengan motor AC dengan 6 roda penggerak dengan nomor urut 22.

Selain lokomotif diesel elektrik dan hidrolik, JR Freight juga memiliki lokomotif hibrida dengan nomor seri HD 300. H disini merupakan singkatan dari Hybrid.

No comments:

Post a Comment