Teman - teman, mungkin kalian yang pernah bepergian ke arah Cirebon menggunakan kereta api sering melihat lokomotif berkabin tengah yang terparkir di gudang milik Dephub di sisi Stasiun Jatibarang. jika membaca nomor serinya, di bagian badan keretanya tertulis seri DD. bagi railfans yang sudah paham dengan penomoran lokomotif di Indonesia pasti dengan segera akan menyimpulkan bahwa lokomotif itu memiliki 8 gandar penggerak karena mengacu kepada lokomotif seri CC yang memiliki 6 gandar penggerak. Jika teman - teman berkesimpulan seperti itu, berarti teman - teman salah besar. Kenapa bisa begitu? Jawabannya adalah, karena lokomotif tersebut merupakan lokomotif impor dari Jepang, dan dia masih menyandang nomor seri asli dari Jepang dan tidak mengalami perubahan.
Untuk lebih memahami mengenai sistem penomoran lokomotif Jepang, yuk kita lihat penjelasannya dibawah ini.
Format
Penomoran Lokomotif Jepang
Format
Penomoran Lokomotif Uap Jepang Pra-Nasionalisasi
Seiring dengan nasionalisasi perkeretaapian Jepang pada 1906-1907,
setiap lokomotif uap yang dimiliki oleh perusahaan kereta api negara diberi
nomor seri sebagai identitas. Pada awal masa beroperasinya kereta api di
Jepang, untuk lokomotif yang berada di seputaran Tokyo menyandang nomor ganjil
dan untuk lokomotif yang berada di seputaran Kobe dengan nomor genap. Setelah
diperkenalkannya sistem klasifikasi lokomotif dengan huruf latin oleh Francis
Trevitchik, sistem ini menjadi jamak digunakan di seluruh dunia, dan Jepang pun
mengadopsi hal tersebut dengan sistem penomoran dengan huruf dan angka sebagai
berikut :
A : Tank Locomotives dengan dua roda penggerak ( A1 – A10 )
B : Tank Locomotives dengan tiga roda penggerak ( B1 – B7 )
C : Tank Locomotives untuk jalur rel bergigi ( C1 – C3 )
D : Tender Locomotives dengan dua roda penggerak ( D1 – D12 )
E : Tender Locomotives dengan tiga roda penggerak ( E1 – E7 )
F : Tender Locomotives dengan empat roda penggerak ( F1 – F2 )
Format
Penomoran Tahun 1909
Setelah era nasionalisasi pada tahun 1909, penomoran lokomotif uap
menggunakan format baru dengan menggunakan 4 digit angka sebagai identitas
sehingga semua lokomotif uap yang ada terpaksa harus mengganti penomoran lama.
Nomor 1 – 4999 dialokasikan untuk Tank Locomotives dan nomor 5000 – 9999
dialokasikan untuk Tender Locomotives. Untuk pembagian detilnya, dijelaskan
sebagai berikut :
1 – 999 : Tank Locomotives dengan dua roda penggerak
1000 – 3999 : Tank Locomotives dengan tiga roda penggerak. Nomor
3900 dst. Untuk lokomotif jalur rel bergigi
4000 – 4999 : Tank Locomotives dengan empat roda penggerak
5000 – 6999 : Tender Locomotives dengan dua roda penggerak
7000 – 8999 : Tender Locomotives dengan tiga roda penggerak
9000 – 9999 : Tender Locomotives dengan empat roda penggerak
Sistem penomoran ini bertahan hingga revisi tahun 1928
Format
Penomoran Tahun 1928
Karena sistem penomoran tahun 1909 sudah
tidak menyisakan nomor yang kosong akibat semakin banyaknya lokomotif uap yang
beroperasi, maka pertanggal 1 Oktober 1928 diperkenalkanlah sistem penomoran
yang baru. Kecuali untuk lokomotif seri 18900, 8200, dan 9900 yang
diklasifikasi ulang menjadi seri C51, C52, dan D50, lokomotif yang telah
beroperasi sebelum sistem ini diperkenalkan, tetap menyandang nomor lamanya
tanpa perubahan. Sistem penomoran yang baru ini mengadopsi sistem alphabet dan
numeral. Penjelasannya seperti dibawah ini :
|
A
|
NN
|
XXX
|
|
D
|
51
|
200
|
A : Jumlah Roda Penggerak
NN : Seri Lokomotif
XXX : Nomor Urut
Jumlah Roda Penggerak dibagi menjadi 4
tipe, yaitu : B untuk 2 roda penggerak, C untuk 3 roda penggerak, D untuk 4
roda penggerak, dan E untuk 5 roda penggerak. Sedangkan untuk nomor seri, 10 –
49 untuk Tank Locomotives dan 50 – 99 untuk Tender Locomotives. Dengan mengacu
contoh diatas, lokomotif uap seri D51 200 berarti lokomotif tersebut adalah
Tender Locomotives dengan 4 roda penggerak dengan nomor urut 200.
Lokomotif
Listrik
Format
Penomoran Pra - 1928
Perusahaan kereta api Jepang pertama kali
mengimpor lokomotif listrik pada tahun 1912, dan seperti lokomotif uap pada
masa itu, lokomotif listrik pun menyandang penomoran yang sama dengan empat
atau lima digit angka. Untuk lokomotif barang penomoran dimulai dari nomor 1000
dan lokomotif barang dimulai dari nomor 6000
Format
Penomoran Tahun 1928
Ketika format penomoran lokomotif direvisi
pad tahun 1928, lokomotif listrik diklasifikasikan berdasarkan tingkat
kecepatannya. Lokomotif berkecepatan tinggi untuk kereta penumpang dan
lokomotif berkecepatan rendah untuk kereta barang. Kelak, sistem penomoran ini
akan direvisi lagi untuk membedakan lokomotif berdasarkan sistem kelistrikannya
( DC , AC/DC ). Contoh penomoran sistem 1928 akan dijelaskan dibawah ini.
|
E
|
A
|
NN
|
XXX
|
|
E
|
F
|
81
|
95
|
E : Menunjukkan Lokomotif Listrik
A : Menunjukkan Jumlah Roda Penggerak
NN : Menunjukkan Seri Lokomotif berdasarkan
tingkat kecepatan
XX : Menunjukkan Nomor Urut
Jumlah Roda Penggerak
Jumlah roda penggerak disimbolkan
menggunakan huruf alphabet. Disini tidak dibedakan antara roda dengan motor
traksi ataupu tanpa motor traksi.
B : 2 roda penggerak
C : 3 roda penggerak
D : 4 roda penggerak
F : 6 roda penggerak
H : 8 roda penggerak
Nomor Seri
Nomor seri selalu bersandingan dan
berposisi setelah huruf yang merepresentasikan jumlah roda penggerak dari
lokomotif tersebut. Nomor seri pada masa-masa awalnya beroperasi dibedakan
menjadi tiga, yaitu :
10 – 39 : Untuk lokomotif berkecepatan
dibawah 85 km/h
40 – 49 : Untuk lokomotif rel bergigi
50 – 99 : Untuk lokomotif berkecepatan
diatas 85 km/h
Pada revisi tahun 1987, penomoran diubah
menjadi sebagai berikut :
10 – 29 : Untuk lokomotif DC dengan
kecepatan maksimum 85 km/h
30 – 39 : untuk lokomotif AC / DC dengan
kecepatan maksimun 85 km/h
40 – 49 : Untuk lokomotif AC dengan
kecepatan maksimum 85 km/h
50 – 69 : Untuk lokomotif DC dengan
kecepatan diatas 85 km/h
70 – 79 : Untuk lokomotif AC dengan
kecepatan diatas 85 km/h
80 – 89 : Untuk Lokomotif AC / DC dengan
kecepatan diatas 85 km/h
90 – 99 : Untuk lokomotif prototype
Dengan sistem penomoran ini, EF 81 95
berarti lokomotif listrik AC / DC berkecepatan diatas 85 km/h dengan 6 roda
penggerak bernomor urut 95.
Lokomotif
Listrik JR Freight
Perusahaan kereta api angkutan khusus
barang hasil dari privatisasi JNR, yaitu JR freight membuat lokomotif baru
sesudah era privatisasi. Mulanya mereka membuat lokomotif dengan desain dan
model yang mengacu kepada lokomotif buatan JNR. Pada tahun 1990, JR Freight
membuat lokomotif baru dengan sistem penomoran baru menggunakan huruf dan 3
digit angka dengan seri EF 200. Kelak, sistem penomoran ini diadopsi oleh JR
East pada tahun 2010 untuk member nomor pada lokomotif barunya, EF 510.
|
E
|
A
|
NN
|
XXXX
|
|
E
|
H
|
500
|
31
|
E : Menunjukkan Lokomotif Listrik
A : Menunjukkan Jumlah Roda Penggerak
NNN : Menunjukkan Seri Lokomotif
berdasarkan sistem kelistrikan
XX : Menunjukkan Nomor Urut
Sistem penomoran sama seperti sistem tahun
1928, namun diantara nomor seri dan nomor urut dipisahkan oleh tanda strip ( -
)
Tiga digit yang digunakan menunjukkan tipe
motor yang digunakan oleh lokomotif tersebut, menggantikan dua digit yang
menunjukkan tingkat kecepatan lokomotif tersebut.
100 – 199 : Lokomotif DC dengan Motor DC
200 – 299 : Lokomotif DC dengan Motor AC
300 – 399 : Lokomotif DC lainnya
400 – 499 : Lokomotif AC / DC dengan Motor
DC
500 – 599 : Lokomotif AC / DC dengan Motor
AC
600 – 699 : Lokomotif AC / DC lainnya
700 – 799 : Lokomotif AC dengan Motor DC
800 – 899 : Lokomotif AC dengan Motor AC
900 – 999 : Lokomotif AC lainnya
Dengan mengacu kepada sistem penomoran baru
ini, lokomotif seri EH 500-31 berarti Lokomotif listrik AC / DC dengan Motor AC
dan 8 roda penggerak bernomor urut 31.
Lokomotif
Diesel
Era
JNR
Lokomotif diesel memulai debutnya di Jepang
pada tahun 1929 saat Jepang mengimpor loko diesel elektrik seri DC 11 dan loko
diesel mekanik DC 10 dari Jerman. Seperti loko uap dan elektrik, lokomotif
diesel juga mengikuti penomoran yang berlaku pada masa itu.
|
D
|
A
|
NN
|
XXXX
|
|
D
|
D
|
51
|
500
|
D : Menunjukkan Lokomotif Diesel
A : Menunjukkan Jumlah Roda Penggerak
NN : Menunjukkan Seri Lokomotif berdasarkan
tingkat kecepatan
XX : Menunjukkan Nomor Urut
Jumlah Roda Penggerak
Jumlah roda penggerak disimbolkan
menggunakan huruf alphabet. Disini tidak dibedakan antara roda dengan motor
traksi ataupu tanpa motor traksi.
C : 3 roda penggerak
D : 4 roda penggerak
E : 5 roda penggerak
F : 6 roda penggerak
Nomor Seri
Nomor seri selalu bersandingan dan
berposisi setelah huruf yang merepresentasikan jumlah roda penggerak dari
lokomotif tersebut.
10 – 49 : Lokomotif dengan kecepatan
maksimal 85 km/h
50 – 89 : Lokomotif dengan kecepatan diatas
85 km/h
90 – 99 : Lokomotif Prototype
Mengacu kepada sistem penomoran lokomotif
diesel diatas, lokomotif seri DD 51 500 berarti, Lokomotif diesel berkecepatan
diatas 85 km/h dan memiliki 4 roda penggerak dengan nomor urut lokomotif ke
500.
Lokomotif
Diesel JR Freight
Setelah privatisasi JNR pada tahun 1987,
dua anggota dari JR Group membuat penomoran baru untuk lokomotif diesel. JR
East mengklasifikasikan lokomotif mereka menggunakan sistem penomoran JNR dan
membuat lokomotif seri DD 19. JR Freight membuat lokomotif yang benar-benar
baru dan menggunakan tiga digit angka sebagai nomor seri berdampingan dengan 2
huruf alphabet.
|
D
|
A
|
NNN
|
XXXX
|
|
D
|
F
|
200
|
22
|
D : Menunjukkan Lokomotif Diesel
A : Menunjukkan Jumlah Roda Penggerak
NNN : Menunjukkan Seri Lokomotif
berdasarkan transmisi / kelistrikan
XX : Menunjukkan Nomor Urut
Sistem penomoran sama seperti sistem JNR,
namun diantara nomor seri dan nomor urut dipisahkan oleh tanda strip ( - )
Nomor Seri
Nomor seri selalu bersandingan dan
berposisi setelah huruf yang merepresentasikan jumlah roda penggerak dari
lokomotif tersebut. Nomor seri terdiri dari tiga digit angka yang menunjukkan
jenis transmisi / sistem kelistrikan pada lokomotif tersebut.
100 – 199 : Lokomotif diesel elektrik
dengan motor DC
200 – 299 : Lokomotif diesel elektrik
dengan motor AC
300 – 399 : Lokomotif diesel elektrik
lainnya
500 – 799 : Lokomotif diesel hidrolik
Mengacu kepada sistem penomoran lokomotif
diesel diatas, lokomotif seri DF 200-22 berarti lokomotif tersebut merupakan
lokomotif diesel eletrik dengan motor AC dengan 6 roda penggerak dengan nomor
urut 22.
Selain lokomotif diesel elektrik dan
hidrolik, JR Freight juga memiliki lokomotif hibrida dengan nomor seri HD 300.
H disini merupakan singkatan dari Hybrid.
No comments:
Post a Comment