Wednesday, February 10, 2016

Jalan - Jalan Ke Jogja Solo

Libur telah tiba.., Horee..!! Sebagai seseorang yang hobi traveling naik angkutan umum (baca : Joyride), maka hari libur panjang merupakan salah satu momen yang paling dinanti untuk melakukan perjalanan. Kali ini saya merencanakan perjalanan pada libur panjang imlek, berangkat hari Jumat tanggal 6 Februari dan kembali ke Jakarta tanggal 7 Februari. Perjalanan ini sudah saya rencanakan sejak jauh hari, sekitar 4 bulan sebelum tanggal keberangkatan karena tiket kereta api di long weekend, khususnya kelas ekonomi pasti akan susah didapat dan harus membeli pada H-90 Hari. Oh iya, meskipun suka Joyride, tapi berhubung kondisi keuangan berada sedikit diatas garis kemiskinan (haiyah..) maka sebisa mungkin budgetnya jangan mahal-mahal banget karena ngumpulin uangnya benar-benar perjuangan banget..he..he..he..


Nah, setelah dihitung dan dikalkulasi, sebelum masa pemesanan tiket, saya memutuskan berangkat naik KA Ekonomi AC Progo tujuan Stasiun Yogyakarta Lempuyangan dan pulangnya naik KA Eksekutif Argo Lawu dari Stasiun Yogyakarta dengan harga Subkelas termurah (teteeep ya pengen hemat). Selama di Yogyakarta, saya rencananya ingin joyride naik KA Perintis Railbus Bathara Kresna ke Wonogiri karena pengen merasakan sensasi naik KA lewat pinggir jalan raya, tapi berhubung KA Perintis tidak bias dipesan lewat online, jadinya rencananya saya beli tiket di Solo.

1.       Pra-Joyride (Masa pemesanan tiket PP)

Seperti yang saya jelaskan diatas, untuk pembelian tiket KA Jarak Jauh, apalagi di masa long weekend harus cepet-cepetan dan gontok-gontokan dengan penumpang lain, karena peminat Kereta Api bukan saya doang. Demi menyukseskan joyride saya ini (ciyeeh), maka saya harus pesen persis di H-90 sebelum keberangkatan dan online persis di Jam 00.00, dan itu artinya begadang.., tapi begadang sih boleh aja kalo ada artinya (he he malah nyanyi).  Tepat jam 00.00 saya online dan memesan melalui web, bukan web situs KAI, bukan pula web tiket lainnya. Saya online menggunakan aplikasi Ticketing Agen Kereta Api (RTS) karena saya kebetulan juga agen resmi penjualan tiket KA (he he malah promosi). Alhamdulilah pukul 00.05 saya berhasil dapat tiket, karena kalau telat sedikit saja pasti bakal kehabisan (tiket KA Ekonomi Progo habis dalam waktu 30 menit sejak dibuka pemesanannya)

Dua hari kemudian, saya kembali harus begadang karena harus beli tiket pulang ke Jakarta, tapi karena saya pulang bukan di puncak arus, saya begadangnya bisa lebih santai. Saya tetap harus begadang karena ngincer tarif batas bawah dari KA Argo Lawu seharga Rp. 285.000 daripada saya belinya nanti-nanti malah kena tarif batas atas seharga Rp. 380.000. Kenapa saya milih naik KA Argo lawu daripada KA Taksaka padahal pulangnya dari Yogya? Jawabannya sih simple, karena saya belum pernah nyobain naik KA Argo Lawu. Dulu pernah naik KA Taksaka tapi kok agak kecewa ya karena dari jaman bahela interiornya nggak banyak perubahan. Kalo KA Argo Lawu lebih dinamis karena rangkaiannya sering tukeran sama Argo Dwipangga yang ada gerbong kereta dengan model kaca kecil kayak pesawat.

Setelah selesai begadang selama 2x malam dan sukses dapat tiket akhirnya saya merasa lega dan tinggal bersabar aja menunggu hari keberangkatan yang masih 3 bulan kedepan, he he he…

2.       Hari Keberangkatan (5 Februari 2016, KA Progo Jakarta – Yogya)

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, hari Jumat tanggal 5 Februari 2016 saya siap-siap berangkat dan tidak lupa nyetak tiket dulu di mesin Cetak Tiket Mandiri paling telat 1 jam sebelum keberangkatan. Pukul 21.00 saya sudah tiba di Stasiun Pasar Senen padahal KA Progo berangkatnya Pukul 22.30, saya sengaja datang awal biar nggak terlalu mepet dan keburu-buru, bisa-bisa malah ada hambatan di jalanan dan ketinggalan kereta. Hari keberangkatan saya persis dengan hari keberangkatan KA Kertajaya Rangkaian Panjang yang memuat 1.400 penumpang yang berangkat jam 23.15. sebagai info aja, KA Progo dan KA Kertajaya sama-sama berangkat dari jalur 3 Stasiun Pasar Senen jadi pintu masuk penumpang untuk Boardingnya sama. Untuk mencegah menumpuknya penumpang 2 KA tersebut yang kalau numplek bersamaan bakal berjumlah 2.000-an orang, maka penumpang KA Progo diboarding lebih awal sekitar pukul 21.00 melalui pintu 1 sehingga memecah keramaian.

                Selesai boarding, pukul 22.00 penumpang KA Progo diperbolehkan menuju peron 3 untuk menunggu KA Progo di Langsir dari Depo Kereta. 15 menit sebelum berangkat, kereta akhirnya tiba di peron 3 dan saya pun naik ke gerbong kereta nomor 6 dengan seat nomor 3 berbatasan dengan tembok toilet he he he. Oh iya, KA Progo ini lebih banyak diisi kaum penglaju yang disebut PJKA (pulang Jum’at kembali Ahad), jadi mereka mudik tiap Hari Jum’at dan kembali lagi ke Jakarta hari Minggu untuk bekerja. Mereka umumnya sudah akrab dan saling kenal jadi suasana keretanya semarak.

                Tepat pukul 22.30 KA Progo yang saya naiki akhirnya berangkat dari Stasiun Pasar Senen. Eh tapi baru 1 jam perjalanan, KA yang saya naiki tertahan di Stasiun Dawuan. Usut punya usut ternyata KA saya tertahan antrian karena di Stasiun Pegaden Baru terdapat gangguan persinyalan. Jarak dari Stasiun Dawuan ke Stasiun Pegaden Baru sebanyak 8 Stasiun dan lumayan makan waktu juga. Setelah susah payah berjuang melalui Stasiun Pegaden Baru, KA yang saya tumpangi akhirnya bebas lepas dari antrian dan maju melesat menuju Stasiun Cirebon Prujakan, Purwokerto, Gombong, Kebumen, Kutoarjo, dan Wates. Akhirnya KA Progo sampe Stasiun Yogyakarta Lempuyangan telat sekitar 40 menitan dan terpaksa keabisan tiket KA prameks jam setengah 8, batal deh rencana Joyride ke Wonogiri (huhuhu beteee).

Tiket KA Progo

3.       Hari Kedua (6 Februari 2016, Yogya – Solo PP)

Setelah kecewa karena gagal Joyride ke Wonogiri karena ketinggalan KA Prameks Jam setengah 8 akhirnya saya tetap memutuskan untuk berangkat ke Stasiun Solo Balapan karena dapat kabar dari rekan yang di Solo kalau akan ada Ujicoba Kereta Inspeksi dari Madiun. Setelah mengantri tiket KA Prameks ternyata saya kebagian untuk keberangkatan Pukul 10.05 karena untuk keberangkatan Pukul 09.10 juga sudah habis. Penyebab cepat habisnya tiket KA Prameks karena jumlah penumpangnya dibatasi sebanyak 150% dari Kapasitas tempat duduk dan harganya juga cukup murah Rp 8.000. Karena masih ada sisa 2 jam dan penumpang baru boleh masuk peron 1 Jam sebelum keberangkatan KA, padahal saya masih agak ngantuk karena di KA Progo tidurnya tidak bisa nyenyak jadinya saya cari tempat duduk dan bersandar di tembok (bukan bersandar di pundak lho ya).

Tiket KA Prameks

Pukul 09.10 setelah KA Prameks berangkat, saya mencoba untuk masuk Stasiun dan ternyata sudah diperbolehkan, segera saja saya mencari tempat duduk dan membeli sarapan Roti O seharga Rp. 10.000, lumayanlah soalnya belum sempat sarapan. Tunggu punya tunggu akhirnya pada Pukul 10.00 KA Prameks yang akan saya naiki telah tiba. Keretanya menggunakan rangkaian KRDE AC Eks-Rangkaian KA Sriwedari AC, saya kira AC nya bakal berfungsi juga eh pas masuk ternyata AC nya mati sehingga hanya mengandalkan Exhaust Fan dan jendela yang Cuma bisa dibuka sedikit. Perjalanan menuju Solo Balapan memakan waktu sekitar 1 Jam karena kereta berhenti di banyak Stasiun (Maguwo, Klaten, Purwosari). Keretanya jalannya juga tidak terlalu kencang, entah karena terkena pembatasan kecepatan atau keretanya emang lemes (he he becanda).

Sarapan Roti di Stasiun

C-KRDE AC, rangkaian Prameks yang saya naiki menuju Solo

Tepat Pukul 11.15 KA Prameks yang saya naiki tiba di Stasiun Solo Balapan. Pas saya turun, saya melihat di Jalur 2 sudah ada KA Inspeksi berwarna kuning dengan nama Semeru, segera aja saya abadikan pake kamera HP, karena kalau pake kamera gede takut ditangkep PKD.  Beres foto-foto dikit saya langsung ngacir keluar Stasiun untuk beli tiket balik ke Yogya. Berhubung saya agak kecewa dengan KA Prameks yang sumuk tadi, saya akhirnya memilih untuk naik KA Madiun Jaya AC dari Solo Balapan ke Yogyakarta keberangkatan Pukul 15.00 dengan harga tiket Rp. 15.000, kebetulan juga saya belum pernah naik KA Madiun Jaya AC, jadi bisa sekalian nyobain. Karena pembelian tiket dibuka 3 Jam sebelum keberangkatan, saya terpaksa masih harus bersabar menunggu hingga Pukul 12.00 padahal perut udah keroncongan. Beres antri tiket saya langsung ngacir menuju kedai vien’s buat makan Selat Solo karena emang udah ngidam. Sampe disana bersamaan dengan jam makan siang, jadinya tempatnya penuh banget. Setelah nunggu sebentar akhirnya ada bangku kosong dan segera aja saya duduk dan manggil mbaknya buat pesen. Saya memilih untuk memesan selat daging dan es teh manis, harganya murah kok, selat daging Cuma Rp. 9.000 dan selat iga Rp. 11.000. Presentasi makanannya sih biasa aja, mungkin karena kuahnya yang membanjiri piring jadinya isi makanannya sulit buat ditata, tapi kalau untuk rasa makanannya sih menurut saya enak buat ukuran orang yang lagi kelaparan seharian. Ha ha ha. Ketika lagi makan, nggak lama temen saya datang dan dia mesen juga.

Selat Daging

Es Beras Kencur

Selesai makan kita balik lagi ke Stasiun Solo Balapan karena kata teman saya ada 1 lagi KA Inspeksi yang datang bernama Merbabu. Sampe Stasiun sekitar Pukul 13.30 tapi saya belum bisa masuk karena penumpang KA Madiun Jaya baru boleh boarding jam 14.00, teman saya juga tidak bisa masuk karena tidak ada tiket, beruntung di Stasiun saya ketemu teman dekat saya yang bekerja di PT. KAI dengan pangkat manager, dengan sedikit ngobrol dan bujuk rayu akhirnya kita diperbolehkan masuk dan foto Kereta Inspeksi yang berjajar rapi, kita juga diajak untuk naik dan foto interiornya, langsung aja hal tersebut tidak kita sia-siakan (ha ha kapan lagi bisa motret didalem kereta pejabat). Selesai foto-foto kereta dan foto bareng teman saya yang kerja di PT. KAI, kita berpamitan karena dia masih ada pekerjaan dan saya juga pamit akan kembali ke Yogya. Sembari menunggu waktu keberangkatan di dalam Stasiun, tiba-tiba terdengar suara klakson kereta yang tidak asing lagi, ternyata itu suara klakson KA Perintis Railbus dari Wonogiri yang mau pulang depo, langsung aja saya fotoin itu kereta (lumayan bisa sedikit mengobati kekecewaan gagal naik KA Perintis).
Nama Kereta Inspeksi di Sisi Samping

Interior KA Inspeksi Merbabu

Trio Kereta Buatan INKA (Railbus, KAIS Merbabu, KAIS Semeru)

Kereta Inspeksi Merbabu

Setelah agak lama foto-foto, KA Madiun Jaya akhirnya tiba di Jalur 4 dan saya segera ngacir naik kereta karena takut bangkunya ada yang dudukin, karena meskipun ada nomor tempat duduk tapi penumpangnya tidak tertib duduk sesuai nomor. KA Madiun Jaya masih terlihat kinclong dan AC nya juga adem, jadi enak ke Yogya nggak akan kepanasan lagi kayak pas tadi naik Prameks. Tepat Pukul 15.00 KA Madiun Jaya berangkat dari Stasiun Solo, yang saya suka dari rangkaian KRDI Madiun Jaya ini adalah suara mesinnya saat melakukan akselerasi persis kayak suara truk, ngeden-ngeden tapi nggak maju-maju he he. Karena keretanya adem, saya sempet ketiduran juga karena nyaman dan capek. Pukul 16.20 kereta saya tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta dan bersebelahan dengan kereta Prameks rangkaian warna kuning.
Tiket KA Madiun Jaya AC

KRDI AC Madiun Jaya Buatan PT. INKA

Interior KA Madiun Jaya

KRD Prameks Rangkaian MCW

Turun dari kereta saya langsung keluar menuju penginapan, oh iya diatas saya belum sempat cerita mengenai penginapan. Tadinya saya akan menginap di hotel melati 105 di daerah sosrowijayan karena menurut teman saya harga disana murah, per-orangnya cuma kena Rp. 80.000. tapi pas mau pesan by phone, katanya di tanggal tersebut per kamar kena Rp. 400.000 karena lagi peak season, terpaksa saya urungkan niat pesan karena mahal banget. Tadinya ada niatan untuk cari-cari penginapan lain yang murah di internet, kebetulan banget pas saya lagi browsing ada temen yang ngabarin bahwa hari itu lagi ada Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) dan temen saya nyaranin pesen hotel lewat Travelio.com karena dapet diskon Rp. 200.000. akhirnya saya minta bantuan dia buat pesenin penginapan dan dapet di POP! Hotel Gandekan, 2 menit jalan kaki dari Stasiun Yogyakarta dengan harga setelah diskon sebesar Rp.130.000 (murah bangeeet).

Nah lanjut cerita tadi, saya check-in di hotel sekitar jam 16.00 dan dilayani dengan ramah oleh resepsionis. Karena saya sudah lunas bayar, saya hanya perlu print invoice dan voucher diskon dari Travelio plus membayar uang deposit sebesar Rp. 30.000 (deposit dikembalikan lagi pas check-out). Beres di resepsionis saya langsung menuju kamar saya yang terletak di lantai 5. Ukuran kamarnya tidak terlalu besar tapi cukup lah untuk ‘single fighter’ seperti saya karena dapet kasurnya ukuran double jadi enak bisa guling-gulingan ha ha. Saya memutuskan untuk tidur sebentar sampe Maghrib karena rencananya mau jalan-jalan ke Malioboro dan janjian sama teman di angkringan Pak Tomi dekat Jembatan Kewek.


Selasar POP! Hotel Gandekan

Setelah waktu Isya, saya memutuskan jalan-jalan ke Malioboro, disana sudah ramai orang dan jalanan sudah macet banget, maklum aja mungkin karena long weekend jadi orang-orang berduyun-duyun berwisata ke Yogya. Saya cuma liat-liat aja tanpa belanja karena saya niatnya memang Cuma jalan bukan shopping (padahal sih nggak ada duit, hi hi). Saya mampir sebentar di KFC buat makan dan nggak lama teman saya ngabari bahwa dia sudah tiba di angkringan. Segera saja saya selesaikan makan dan jalan kaki menuju angkringan. Disana beberapa teman saya sudah tiba dan lagi ngopi-ngopi, berhubung saya udah makan jadi saya duduk dan ngobrol aja sama mereka. Angkringan disini tempatnya bagus karena terletak di pinggir sungai dan bisa melihat pesawat approach menuju Bandara Maguwo plus Kereta Api yang melintas di Jembatan Kewek. Video diambil dari Angkringan Pak Tomi

Beres ngobrol dan cerita-cerita, Pukul 22.00 kami memutuskan untuk pulang karena sudah ngantuk, lagipula saya juga harus segera tidur biar nggak bangun kesiangan karena kereta berangkat esok hari Pukul 08.57

4.       Hari Ketiga (7 Februari 2016, KA Argo Lawu Yogya – Jakarta)

Hari ini adalah hari kepulangan saya kembali ke Jakarta, Pukul 05.00 saya sudah bangun karena sindrom susah tidur kalau mau melakukan perjalanan pagi. Sekitar Pukul 07.00 setelah mandi dan beres-beres, saya turun menuju lobi hotel untuk sarapan, ternyata lobi tersebut telah penuh karena ukuran area makannya yang kecil ditambah adanya rombongan keluarga yang akan berjalan-jalan sehingga melakukan sarapan dalam waktu bersamaan. Segera saja saya ambil sarapan menu bubur dengan minum teh manis. Setelah sarapan singkat, saya memutuskan mau membeli oleh-oleh bakpia dan segera menuju tukang becak yang mangkal didepan hotel. Oleh abang becak saya diantar ke Bakpia nomor 99, segera saja saya beli bakpia kacang hijau dengan harga Rp. 30.000 untuk satu kotak. Selesai berbelanja, saya diantar kembali ke hotel oleh abang becak yang sama, ketika saya Tanya berapa ongkosnya, dia menjawab terserah berapa saja (mungkin karena abang tersebut sudah ada MoU dengan bakpia 99, sehingga setiap konsumen yang berbelanja disana, si abang akan mendapat persenan), setelah saya pikir, saya berikan saja uang Rp. 15.000. saya kembali ke kamar hotel untuk beres-beres lagi dan pukul 08.15 saya check-out untuk segera menuju stasiun.

                Dua menit berjalan ke Stasiun, saya langsung memutuskan kembali sarapan di Loko Café. Loko Café merupakan Café di areal stasiun yang dimiliki oleh PT. Reska Multi Usaha yang juga mengelola restorasi Kereta Api. Karena waktu yang singkat, saya memilih memesan Belgian Waffle ala mode Rp. 18.000 dan Strawberry Smoothies Rp. 20.000., overall rasa makanan dan minumannya enak jika dibandingkan dengan produk sejenis yang dijual di mall dengan harga yang lebih mahal.


Loko Cafe Stasiun Yogya

Strawberry Smoothies

Belgian Waffle A la Mode


Tepat Pukul 08.52 KA Argo lawu yang akan saya naiki tiba di Stasiun dan saya segera masuk menuju gerbong kereta 1, kebetulan saya mendapat gerbong kereta angkatan Tahun 2008 dengan interior masih orisinil dilengkapi dengan meja makan kecil, footrest dan kursi beludru. Karena perjalanan kali ini dilakukan pagi hari, saya jadi bisa menikmati pemandangan sawah, bukit, dan lembah yang dilalui. Perjalanan saya sangat nyaman dan lancar, hanya ada sedikit kendala di daerah jatibarang dimana kereta yang saya naiki menabrak pengendara motor di pintu perlintasan sehingga menyebabkan kereta terlambat tiba di Jakarta sekitar 20 menit.
Tiket KA Argo Lawu

Gerbong Kereta Eksekutif Angkatan 2008, masih lengkap Footrest, Meja Lipat, dan kursi beludru


Suasana didalam Kereta

Menabrak pemotor di Jatibarang
Demikian cerita Joyride saya dengan rute Jakarta – Yogya – Solo PP, semoga bisa memberi gambaran mengenai Joyride ala Transport Lovers.

Berikut ini biaya yang saya keluarkan selama di perjalanan

Tiket dan Akomodasi :
Tiket KA Ekonomi Progo              : Rp. 75.000 (Mulai 1 April 2016 Rp. 110.000)
Tiket KA Eksekutif Argo Lawu     : Rp. 285.000 (Tarif Subkelas Termurah)
Tiket KA Prameks                          : Rp. 8.000
Tiket KA Madiun Jaya                   : Rp. 15.000
Penginapan 1 Malam                      : Rp. 130.000

Makanan dan Oleh-Oleh :
Roti-O                                    : Rp. 10.000
Selat Daging                          : Rp. 9.000
Es Beras Kencur                    : Rp. 5.000
Belgian Waffle ala mode       : Rp. 18.000
Strawberry Smoothies            : Rp. 20.000
Bakpia 99                               : Rp. 30.000 / kotak
KFC                                        : Rp. 50.000


No comments:

Post a Comment