Beberapa waktu yang lalu, jagat perkeretaapian Indonesia
ramai memperbincangkan mengenai kereta eksekutif terbaru buatan PT. INKA tahun
2016, yang katanya, kereta ini memiliki fasilitas yang wah seperti kelas
eksekutif. Sering saya dengar komentar – komentar dari orang – orang yang sudah
mencicipi kereta ini. Ada yang bilang kereta ini nyaman, ada juga yang bilang
dibawah ekspektasi alias mengecewakan. Waktu itu saya tidak ikut berkomentar
karena saya belum pernah mencicipi, sehingga tidak memiliki dasar ataupun fakta
untuk saya berkomentar. Saya pun sebenarnya tidak bermimpi bisa nyicip kereta
ini karena rangkaian kereta terbaru ini digunakan sebagai kereta eksekutif
tujuan solo, yang mana harganya sangat mahal dan tidak terjangkau oleh traveler
kere seperti saya (halah…)
 |
| Rangkaian KA Eksekutif 2016 |
Tapi, mungkin emang udah rejeki buat nyobain ini kereta, pada
saat libur panjang awal bulan mei lalu, saya mendapat kabar dari temen kalau
kereta ini dipake selama 2 hari sebagai KA Argo Jati Tambahan pada tanggal 4
Mei dari Jakarta. Kebetulan juga, pada tanggal tersebut saya sudah memegang
tiket untuk mudik ke Cirebon, tapi naiknya KA Argo Jati Sore reguler yang sudah
saya beli sejak 3 bulan lalu. Setelah memastikan kebeneran info soal dinasan
kereta tersebut, tanpa pikir panjang, sehari sebelum keberangkatan, saya
langsung reschedule jam keberangkatan kereta saya dari KA Argo Jati Reguler
jadi KA Argo Jati Tambahan.
 |
| Bersebelahan dengan KA Argo Jati Reguler |
Pada
hari keberangkatan, saya tiba di Stasiun Gambir dan mendengar pengumuman bahwa
KA Argo Jati Reguler terlambat tiba di Jakarta sehingga KA Argo Jati Tambahan
jadi berangkat terlebih dahulu. 15 Menit
sebelum waktu keberangkatan, rangkaian KA Argo Jati Tambahan memasuki Stasiun
Gambir dari arah Stasiun Manggarai, secara tampilan luar, kereta ini masih
terlihat bagus dan bersih karena memang belum sampai 5 bulan dipakai. Dilihat dari
luar, kereta ini memiliki bentuk kaca yang menyerupai rangkaian Argo Bromo
Anggrek Go Green dengan kaca memanjang. Berpindah
ke interior, rangkaian ini berwarna dominan putih dengan lampu yang
sangat terang. Kereta ini memilik 4 buah televisi, dimana 2 buah merupakan TV
ditengah rangkaian yang dapat dilipat. Rangkaian ini memiliki tempat duduk yang
dilapisi jok kulit sehingga menurut saya agak kurang nyaman karena tidak
terlalu empuk. Footrest kereta ini juga menggunakan footrest model baru yaitu
model lipat, sehingga apabila kita ingin menggunakannya, kita harus
menginjaknya terus. Pada masing- masing
tempat duduk juga terdapat meja lipat kecil yang umumnya digunakan untuk makan.
Untuk bantal kecil yang tersedia, sarungnya menggunakan bahan seperti goody
bag, tidak seperti sebelumnya yang menggunakan kain.
 |
| Kabin Penumpang |
 |
| Lampu baca diatas tiap kursi |
 |
| TV yang gambarnya tidak sempurna |
 |
| Meja lipat di tiap kursi |
 |
| Bantal dengan sarung berbahan seperti goodie bag |
 |
| Footrest |
Tepat pukul 17.30, kereta yang saya naiki akhirnya berangkat
dari Stasiun Gambir. Butuh perjuangan untuk mencapai Stasiun Bekasi karena
ramainya antrian KA. Selepas Stasiun Bekasi, kereta saya akhirnya dapat
berjalan dengan kencang. Salah satu kekurangan yang saya temui adalah, saya
kereta ini berjalan dengan kencang, suara dari luar, terutama saat melewati
wesel masih terdengar kedalam, mungkin ini akibat dari minimnya peredam suara
dan tidak digunakannya karpet sebagai pelapis lantai. Hal lain yang cukup
mengganggu juga, saat terjadi goncangan, gambar di TV menjadi hilang atau
kabur, mungkin akibat pemasangan kabel yang tidak baik atau kendor. Suara dari
pengeras suara pun tidak terdengar sehingga seperti nonton film bisu Charlie
Chaplin (ha..ha..ha..)
Hari beranjak semakin gelap, KA Argo Jati Tambahan semakin
mendekati tujuan. Namun, saya tidak dapat melihat pemandangan keluar karena
lampu yang sangat terang sehingga seperti akuarium. Saya harus benar-benar
menempelkan wajah saya ke jendela untuk dapat melihat keluar, itupun tidak
terlalu jelas. Saya tidak tahu kenapa pihak operator lebih memilih menggunakan
lampu neon daripada lampu LED yang hemat energy dan tidak terlalu panas. AC di
kereta ini sangatlah dingin, sehingga membuat saya menggigil dan membuat saya
harus mengunjungi toilet. Toilet nya tidak terlalu besar dan dilengkapi kloset
jongkok. Ini yang selalu jadi pertanyaan saya, kenapa dari dulu yang digunakan
selalu kloset jongkok, yang notabene akan sulit menyeimbangkan diri ketika
digunakan saat KA berjalan. Mungkin ada baiknya ke depan, pihak operator
mengkaji penggantian kloset dari tipe jongkok ke tipe duduk, apalagi sekarang
ini sudah banyak bule – bule yang naik kereta dan mungkin tidak terbiasa pakai
kloset jongkok di negaranya.
 |
| Kloset Jongkok |
Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam lebih, kereta yang
saya naiki akhirnya tiba di Stasiun Cirebon. Saat saya keluar dari kereta,
kacamata yang saya gunakan sampai berembun, mungkin akibat dari perbedaan suhu
yang sangat drastis didalam dan diluar kereta. Ketika saya akan memotret
menggunakan kamera pun hal yang sama terjadi, sehingga saya harus berkali-kali
menyeka embun yang muncul di lensa kamera.
 |
| Lampu yang terang membuat pantulan di kaca dan sulit melihat keluar |
Penilaian saya setelah menaiki kereta ini adalah, menurut
saya rangkaian KA ini terlalu dilebih-lebihkan, karena sebenarnya tidak terlalu
berbeda jauh dibandingkan dengan rangkaian kereta lain, saya bahkan lebih
senang dengan rangkaian buatan tahun 2008 yang digunakan KA Gajayana karena
kursinya menggunakan bahan beludru dan rak barang serta jendelanya menyerupai
pesawat. Inovasi TV tengah di Rangkaian 2016 pun sebenarnya bukan hal yang
baru, karena beberapa tahun yang lalu pun, KA Eksekutif telah dilengkapi oleh
TV tengah. Ada baiknya, kedepan nanti PT. KAI selaku operator Kereta Api
satu-satunya di Indonesia, melakukan survey dan pengkajian lebih mendalam
mengenai kriteria KA yang bagus, kalau perlu melakukan riset atau wawancara
kepada penumpang sehingga dapat mengakomodir masukan – masukan dari penumpang
sebagai pengguna Kereta Api.
 |
| Palu pemecah kaca |
No comments:
Post a Comment