Sunday, May 22, 2016

RANGKAIAN KA EKSEKUTIF 2016, ANTARA EKSPEKTASI DAN REALITA

Beberapa waktu yang lalu, jagat perkeretaapian Indonesia ramai memperbincangkan mengenai kereta eksekutif terbaru buatan PT. INKA tahun 2016, yang katanya, kereta ini memiliki fasilitas yang wah seperti kelas eksekutif. Sering saya dengar komentar – komentar dari orang – orang yang sudah mencicipi kereta ini. Ada yang bilang kereta ini nyaman, ada juga yang bilang dibawah ekspektasi alias mengecewakan. Waktu itu saya tidak ikut berkomentar karena saya belum pernah mencicipi, sehingga tidak memiliki dasar ataupun fakta untuk saya berkomentar. Saya pun sebenarnya tidak bermimpi bisa nyicip kereta ini karena rangkaian kereta terbaru ini digunakan sebagai kereta eksekutif tujuan solo, yang mana harganya sangat mahal dan tidak terjangkau oleh traveler kere seperti saya (halah…)
Rangkaian KA Eksekutif 2016
Tapi, mungkin emang udah rejeki buat nyobain ini kereta, pada saat libur panjang awal bulan mei lalu, saya mendapat kabar dari temen kalau kereta ini dipake selama 2 hari sebagai KA Argo Jati Tambahan pada tanggal 4 Mei dari Jakarta. Kebetulan juga, pada tanggal tersebut saya sudah memegang tiket untuk mudik ke Cirebon, tapi naiknya KA Argo Jati Sore reguler yang sudah saya beli sejak 3 bulan lalu. Setelah memastikan kebeneran info soal dinasan kereta tersebut, tanpa pikir panjang, sehari sebelum keberangkatan, saya langsung reschedule jam keberangkatan kereta saya dari KA Argo Jati Reguler jadi KA Argo Jati Tambahan.

Bersebelahan dengan KA Argo Jati Reguler
Pada hari keberangkatan, saya tiba di Stasiun Gambir dan mendengar pengumuman bahwa KA Argo Jati Reguler terlambat tiba di Jakarta sehingga KA Argo Jati Tambahan jadi berangkat terlebih dahulu.  15 Menit sebelum waktu keberangkatan, rangkaian KA Argo Jati Tambahan memasuki Stasiun Gambir dari arah Stasiun Manggarai, secara tampilan luar, kereta ini masih terlihat bagus dan bersih karena memang belum sampai 5 bulan dipakai. Dilihat dari luar, kereta ini memiliki bentuk kaca yang menyerupai rangkaian Argo Bromo Anggrek Go Green dengan kaca memanjang.  Berpindah ke interior, rangkaian ini berwarna dominan putih dengan lampu yang sangat terang. Kereta ini memilik 4 buah televisi, dimana 2 buah merupakan TV ditengah rangkaian yang dapat dilipat. Rangkaian ini memiliki tempat duduk yang dilapisi jok kulit sehingga menurut saya agak kurang nyaman karena tidak terlalu empuk. Footrest kereta ini juga menggunakan footrest model baru yaitu model lipat, sehingga apabila kita ingin menggunakannya, kita harus menginjaknya terus.  Pada masing- masing tempat duduk juga terdapat meja lipat kecil yang umumnya digunakan untuk makan. Untuk bantal kecil yang tersedia, sarungnya menggunakan bahan seperti goody bag, tidak seperti sebelumnya yang menggunakan kain.

Kabin Penumpang


Lampu baca diatas tiap kursi

TV yang gambarnya tidak sempurna

Meja lipat di tiap kursi

Bantal dengan sarung berbahan seperti goodie bag
Footrest

Tepat pukul 17.30, kereta yang saya naiki akhirnya berangkat dari Stasiun Gambir. Butuh perjuangan untuk mencapai Stasiun Bekasi karena ramainya antrian KA. Selepas Stasiun Bekasi, kereta saya akhirnya dapat berjalan dengan kencang. Salah satu kekurangan yang saya temui adalah, saya kereta ini berjalan dengan kencang, suara dari luar, terutama saat melewati wesel masih terdengar kedalam, mungkin ini akibat dari minimnya peredam suara dan tidak digunakannya karpet sebagai pelapis lantai. Hal lain yang cukup mengganggu juga, saat terjadi goncangan, gambar di TV menjadi hilang atau kabur, mungkin akibat pemasangan kabel yang tidak baik atau kendor. Suara dari pengeras suara pun tidak terdengar sehingga seperti nonton film bisu Charlie Chaplin (ha..ha..ha..)

Hari beranjak semakin gelap, KA Argo Jati Tambahan semakin mendekati tujuan. Namun, saya tidak dapat melihat pemandangan keluar karena lampu yang sangat terang sehingga seperti akuarium. Saya harus benar-benar menempelkan wajah saya ke jendela untuk dapat melihat keluar, itupun tidak terlalu jelas. Saya tidak tahu kenapa pihak operator lebih memilih menggunakan lampu neon daripada lampu LED yang hemat energy dan tidak terlalu panas. AC di kereta ini sangatlah dingin, sehingga membuat saya menggigil dan membuat saya harus mengunjungi toilet. Toilet nya tidak terlalu besar dan dilengkapi kloset jongkok. Ini yang selalu jadi pertanyaan saya, kenapa dari dulu yang digunakan selalu kloset jongkok, yang notabene akan sulit menyeimbangkan diri ketika digunakan saat KA berjalan. Mungkin ada baiknya ke depan, pihak operator mengkaji penggantian kloset dari tipe jongkok ke tipe duduk, apalagi sekarang ini sudah banyak bule – bule yang naik kereta dan mungkin tidak terbiasa pakai kloset jongkok di negaranya.

Kloset Jongkok

Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam lebih, kereta yang saya naiki akhirnya tiba di Stasiun Cirebon. Saat saya keluar dari kereta, kacamata yang saya gunakan sampai berembun, mungkin akibat dari perbedaan suhu yang sangat drastis didalam dan diluar kereta. Ketika saya akan memotret menggunakan kamera pun hal yang sama terjadi, sehingga saya harus berkali-kali menyeka embun yang muncul di lensa kamera.

Lampu yang terang membuat pantulan di kaca dan sulit melihat keluar



Penilaian saya setelah menaiki kereta ini adalah, menurut saya rangkaian KA ini terlalu dilebih-lebihkan, karena sebenarnya tidak terlalu berbeda jauh dibandingkan dengan rangkaian kereta lain, saya bahkan lebih senang dengan rangkaian buatan tahun 2008 yang digunakan KA Gajayana karena kursinya menggunakan bahan beludru dan rak barang serta jendelanya menyerupai pesawat. Inovasi TV tengah di Rangkaian 2016 pun sebenarnya bukan hal yang baru, karena beberapa tahun yang lalu pun, KA Eksekutif telah dilengkapi oleh TV tengah. Ada baiknya, kedepan nanti PT. KAI selaku operator Kereta Api satu-satunya di Indonesia, melakukan survey dan pengkajian lebih mendalam mengenai kriteria KA yang bagus, kalau perlu melakukan riset atau wawancara kepada penumpang sehingga dapat mengakomodir masukan – masukan dari penumpang sebagai pengguna Kereta Api.
Palu pemecah kaca

No comments:

Post a Comment